Ahad, 10 Februari 2013

Moral sebagai Dasar Kehidupan


Moral sebagai Dasar Kehidupan
Dewasa ini wacana yang berkembang adalah keluhan adanya kemerosotan moral bangsa yang sangat parah. Berbagai aturan dan disiplin hidup bersama sudah tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat, sehingga hidup bersama secara zaman barbar, seperti hidup dalam hutan, tanpa aturan, dan siap kuat dialah yang menang. Aturan lalu lintas tidak dipatuhi lagi, korupsi dibiarkan begitu saja, kriminalitas meningkat, skandal seks makin banyak kasusnya, pembunuhan sudah menjadi biasa terjadi setiap hari, solidaritas sosial tidak nampak sebagai semangat hidup bersama, bahkan perasaan persatuan dan kesatuan bangsa sudah pudar. Dahulu orang suka menganjurkan perlunya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan moral, agar dapat dikendalikannya ilmu pengetahuan itu untuk kemaslahatan bersama.

Apa itu Moral?
Moral adalah satu set tata-nilai yang diyakini dan dianut seseorang atau sekelompok orang untuk menuntun segala tingkah laku dalam kehidupannya. Moral akan menjadi pedoman utama pemeluknya untuk bertindak apa saja, baik pada tingkatan berpikir, ekspresi lisan, ekspresi fisik, ekspresi sosial, maupun pada dirinya sendiri, melakukan kontrak sosial, memperlakukan lingkungan fisik maupun memperlakukan lingkungan abstraknya/ghaib. Moral seseorang akan mewarnai seluruh tingkah laku dan penampilan individu maupun masyarakat. Akan mudah terbaca seseorang yang bermoral baik atau tidak dari tingkah laku dan penampilannya. Moral yang diyakini seseorang dapat berbeda dengan orang lain. Moral akan menunjukkan mana yang baik/mulia dan mana yang buruk/hina. Nilai-nilai yang ada pada manusia disusun menurut urutan tertentu berdasarkan kualitas kebaikan dan keburukannya, sesuai dengan hati nuraninya.

Moral sebagai Ciri Utama Manusia
Tidak semua makhluk yang hidup di dunia ini mengenal moral! Hanya manusialah yang memiliki moral, karena manusialah yang diberi kemampuan untuk mengenal tata-nilai dan norma-norma kehidupan. Di lingkungan binatang sekilas nampaknya ada moral, padahal yang ada adalah hanya instink atau naluri. Induk singa sayang pada anaknya, burung mencarikan makan anaknya, kambing dapat hidup satu kandang, binatang piaraan dapat diajari buang kotoran di tempat tertentu, dan sebagainya. Binatang buas menjadi jinak bukan karena ia memiliki moral, tetapi karena ada proses conditioning/drill/pembiasaan atas tingkah lakunya. Sedangkan moral yang ada pada manusia saja sangat bervariasi dan dapat berubah serta dapat dipelajari.

Moral diberlakukan oleh Allah SWT hanya kepada manusia, karena dalam kehadirannya di dunia manusia diberi kebebasan penuh untuk mengambil keputusan di antara berbagai kemungkinan tindakan, dari yang paling dilarang oleh Allah sampai yang dijanjikan mendapat imbalan sorga nantinya bila dilakukan. Moral yang dianut manusia harus dipertanggung jawabkan manusia pada saat mati nanti dihadapan Allah Sang Maha Pencipta. Mau bicara, mau makan, mau bekerja, mau mencari nafkah, dan sebagainya, setiap saat manusia harus memiliki pilihan mana yang hendak dilakukan dari berbagai pilihan yang ada, yang selalu dibimbing oleh moral yang dianutnya. Dan tindakan yang dipilihnya itu nanti harus dipertanggung jawabkan di akherat.

Pesan Moral dalam Kehidupan Pribadi
Moral seseorang merupakan pondasi utama kehidupannya. Moral akan membedakan seseorang dari orang lain, karena akan memancar ke luar dalam bentuk keputusan yang diambil, perbuatan dan ucapan yang dilakukannya, dan sikap yang ditampilkannya saat menghadapi sesuatu masalah kehidupan. Moral akan membimbing tingkah laku seseorang, memberi warna, dan akan ikut membentuk watak serta kebiasaan hidup seseorang. Moral seseorang juga akan membentuk disiplin pribadi yang bersangkutan. Moral yang kuat akan membentuk pribadi yang kuat, disiplin pribadi yang kuat, dan memberi arah kehidupan pribadi yang jelas.

Pesan Moral dalam Kehidupan Bersama
Hidup lebih dari seorang diri, memerlukan moral bersama yang akan mengatur pola komunikasi dan pergaulan bersama. Dalam masyarakat yang sederhana, moralnya cukup sederhana, mudah diikuti oleh anggota masyarakatnya karena akan tersalurkan lewat adat istiadat dan kebiasaan hidup bersama. Dalam masyarakat moderen akan ditemukan multi sistem moral, yaitu terdapatnya berbagai sistem moral, berbagai sumber moral yang kadang-kadang saling bertentangan, dan memungkinkan seseorang dalam membentuk moral pribadinya dapat dipengaruhi oleh berbagai sumber moral. Akibatnya sering terjadi konflik sosial yang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sistem moral. Sedangkan individunya tidak sedikit yang mengalami kesulitan penyesuaian diri dan bahkan stress.

Moral sosial dari masyarakat dimana seseorang berasal akan memancar pada diri individu tersebut, sehingga orang mudah menebak ia berasal dari daerah mana maupun dari kelompok masyarakat mana.
Penyimpangan dari moral sosial, biasanya ada sanksi yang dikenakan kepada yang melanggarnya. Bisa berupa teguran, pergunjingan, pengucilan, bahkan sanksi adat. Sebaliknya, penampilan moral kelompok oleh seseorang secara baik dan kuat akan menimbulkan rasa simpati dan penghargaan masyarakatnya, bahkan dapat menimbulkan kharisma pada diri orang tersebut.

Pesan Moral bagi Pemimpin
eseorang akan ditunjuk menjadi pemimpin sesuatu kelompok bila ia mampu menampilkan moral kelompok secara kuat dan baik, sehingga berpengaruh pada lingkungannya. Pemimpin yang demikian adalah pemimpin informal, yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Dengan demikian bila kita ingin menjadi pemimpin formal yang disegani masyarakat, kita harus mampu menampilkan moral bersama secara baik dan kuat. Tanpa itu hanya menjadi pemimpin berdasarkan surat keputusan saja. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mengadopsi moral mulia yang diyakini oleh kelompok masyarakatnya.

Pendidikan Moral
Moral diperoleh seseorang lewat proses belajar sejak dari lahir melalui 4 (empat) lingkungan pendidikan :
1. Lingkungan keluarga sebagai lembaga pendidikan paling alamiah dan paling menentukan. Dimulai dengan belaian kasih sayang ibu, tutur kata, dan keteladanan dari ibu, orangtua, saudara, dan sebagainya.
2. Lingkungan sekolah, melalui disiplin, pembiasaan, ceritera baik dari guru maupun dari bacaan, serta dari pelajaran lain yang diperoleh di sekolah. Tidak kalah pentingnya keteladanan guru dan unsur pendidikan lainnya.
3. Lingkungan masyarakat dimana moral akan diperoleh seseorang melalui orang-orang yang berpengaruh dan berdialog/berkomunikasi dengan individu yang bersangkutan. Adat istiadat, kebiasaan teman bermain, kode etik lingkungan tertentu, akan berpengaruh pada pembentukan moral seseorang.
4. Lingkungan lembaga agama yang merupakan lingkungan yang mempengaruhi pembentukan nilai-nilai moral utama dalam menuntun kehidupannya di dunia dan di akherat.

Pendidikan moral dapat diselenggarakan secara formal melalui pendidikan di kelas; dapat pula dilakukan secara informal, yaitu yang terjadi dalam kehidupan bebas sehari-hari di ke empat lingkungan itu.
Keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama, titik beratnya adalah dalam pendidikan moral. Hasil pendidikan moral di lingkungan keluarga merupakan basis utama untuk pembentukan moral selanjutnya, dan akan sangat menentukan kualitas moral yang bersangkutan nanti. Tutur kata, sopan-santun, keteladanan, dan pola komunikasi dalam kehidupan keluarga merupakan sumber yang akan teridentifikasi , diserap, dan diinternalisasikan oleh individu dalam keluarga itu. Itu sebabnya dalam bahasa Jawa sering ada ungkapan "kacang mangsa ninggala lanjaran" (pohon kacang tidak akan meninggalkan kayu tempat ia menjalar naik), jelas menunjukkan bagaimana pola moral seseorang terbentuk karena proses kehidupan dalam keluarga itu. Moral anak-anak menggambarkan moral keluarganya/orangtuanya.

Sumber Moral
Bahan pendidikan moral diperoleh dari berbagai sumber :
1. Agama yang dianut dan dipelajari seseorang
2. Adat istiadat, keyakinan yang dianut oleh lingkungan, dan tatakrama yang diberlakukan di masyarakat lingkungannya.
3. Filsafat berbangsa dan bernegara
4. Hukum dan segala aturan perundangan dan aturan hidup bersama yang berlaku di lingkungannya.
5. Keteladanan yang diperoleh dari ke empat lingkungan pendidikan
6. Ceritera-ceritera yang didengarnya, baik lewat bacaan, sandiwara maupun televisi ataupun oleh orang yang menceritakan suatu ceritera.
7. Tokoh idola, bintang film, pemimpin kharismatik.
8. Pengetahuan umum yang menambah wawasan seseorang.

Setiap individu tidak selalu menelan begitu saja nilai-nilai apa yang ditangkap dari lingkungannya, tetapi masing-masing mempunyai daya cerna atas nilai-nilai yang ada di lingkungannya. Jadi, tidak secara otomatis bahwa berbagai tata nilai yang ada di lingkungannya akan diadopsi oleh si individu mentah-mentah, melainkan ada satu proses pencernaan; ada yang ditolak, ada yang diakomodasi, ada yang memperkuat nilai yang telah ada, ada yang merubah nilai yang telah ada, dan ada pula yang diadaptasikan sehingga membentuk satu sosok moral tersendiri.

Metoda Pendidikan Moral
Telah disebutkan berbagai metoda pendidikan moral. Pertama adanya metoda formal dan metoda informal. Ada pula metoda teladan (dalam bentuk perbuatan) dan nasehat (dalam bentuk nasehat langsung maupun menceritakan pengalaman orang lain). Ada pula metoda langsung, yaitu penghayatan langsung pada lingkungan nilai-nilai, dan metoda tidak langsung, melalui penggambaran pengalaman orang lain (ceritera, sandiwara, film, tayangan TV, dsb). Tapi dalam hal pendidikan moral sosial/ bangsa, hanya ada satu metoda yaitu top down. Moral tidak dapat diajarkan atau dilaksanakan dengan cara bottom up, melainkan harus top down, yaitu kita tidak dapat memerintahkan masyarakat bermoral baik sedangkan pemimpinnya tidak menunjukkan moral yang baik. Masyarakat akan meniru apa yang diperbuat, diucapkan, dan ditunjukkan oleh para pemimpinnya. Di rumah tangga atau keluarga, pendidikan moral berjalan sangat alamiah, sehingga jarang harus dilakukan dengan kekerasan. Tetapi dalam tataran masyarakat dimana terjadi kemerosotan moral, maka pendidikan moral dapat dilakukan dengan agak keras agar terjadi disiplin hidup yang baik. Perlu diaplikasikan reward and punishment system.

Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan
Tidak semua keluarga mampu melaksanakan fungsi pendidikan moral dengan baik, dan banyak yang gagal. Oleh karena itu, fungsi pendidikan moral di sekolah menjadi sangat penting. Sekolah adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga pengajaran semata. Oleh karena itu, penekanannya adalah pembentukan moral anak didik. Seluruh pelajaran yang diberikan kepada anak didik adalah untuk membentuk pribadi anak didik yang baik dalam moral, ilmu, dan amalannya. Pada zaman dahulu ketika kita baru merdeka, pendidikan Budi Pekerti menjadi tumpuan pembentukan moral anak didik; Guru menjadi teladan anak didik, membentuk disiplin hidup.
Pada era sekarang, fungsi pendidikan di sekolah menjadi lebih penting lagi, dimana orangtua masing-masing sibuk dengan urusan mencari nafkah dan bisnis, sehingga fungsi orangtua sebagai pendidik moral anaknya menjadi terabaikan.

Pesan Pemerintah dalam Pendidikan Moral
Pendidikan moral tidak dapat diserahkan kepada keluarga saja; tidak pula hanya diserahkan kepada masyarakat. Pemerintah ikut bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses pendidikan bangsa, terutama dalam pendidikan moralnya. Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah mengembalikan fungsi lembaga persekolahan sebagai lembaga pendidikan yang mengutamakan mendidik moral anak didik, dan memberikan seluas-luasnya kepada seluruh anak umur sekolah untuk memperoleh pendidikan di sekolah secara seringan-ringannya.

Tanggung jawab negara dan Pemerintah adalah untuk membangun bangsa dan wilayah negara menjadi satu kekuatan yang kokoh dan dinamis hingga mampu survive, mampu bertahan dan berkembang kearah yang lebih berkualitas di segala bidang kehidupan, bersatu padu dalam ikatan kebangsaan yang kokoh dan disegani. Apa yang dikaruniakan Allah dalam bentuk kekayaan alam dan kesuburan tanah barulah berupa potensi yang tidak dapat berubah menjadi kesejahteraan yang dapat dinikmati tanpa adanya bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, dan moral yang luhur. Oleh karena itulah pendidikan adalah fungsi Pemerintah yang sangat primer di samping fungsi pembangunan, fungsi kesejahteraan, dan fungsi pertahanan dan keamanan.

Instrumen Pemerintah utama untuk mampu memiliki bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan bermoral luhur, adalah lembaga pendidikan dengan guru-guru yang berkualitas dan mampu melaksanakan proses pendidikan anak bangsa. Kalau zaman dahulu dengan guru Sekolah Rakyat (SR = SD sekarang) yang hanya tamatan OVVO (2 tahun setelah SR, sekitar usia 14-15 tahun telah menjadi guru) atau kemudian tamatan Sekolah Guru B (SGB), yaitu 4 tahun setelah SD mampu membentuk moral yang luhur pada anak didik, maka seharusnya guru-guru SD sekarang yang umumnya sudah tamatan IKIP atau sederajat, dan telah menguasai psikologi pendidikan, didakdik dan metodik serta filsafat pendidikan, seharusnya jauh lebih mampu menghasilkan putera-puteri bangsa yang bermoral tinggi. Ini merupakan tugas semua komponen bangsa dan pemerintah, namun tanggung jawab utamanya ada di tangan Pemerintah. Kesulitan yang dihadapi selama ini adalah kita tidak pernah memiliki Menteri Pendidikan yang menguasai Ilmu Pendidikan, kecuali Ki Hajar Dewantoro. Bahkan sekarang istilah proses pendidikan dikalahkan oleh istilah proses belajar mengajar.


INGAT,,,,??????? HARGA DIRI ITU PENTING

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan